Kembali meregangkan jemari, untuk sekian lama tanpa kord-kord sendiri. Bercipta puisi, lalu menyairkannya, melantunkan dalam iringan khasku. 6 dawai bergema dalam sebuah tabung resonansi. Variasi khas Dewa Budjana. Jazz yang kupaksakan. Apa saja terluap. Dalam suatu ketegangan di dalam sebuah bagian otak kiriku.Malam penuh dengan grafis yang kaya akan lengkungan. Sesekali trigonometri yang kaku, menyikapkan seluruh keadaan. Mencoba merangkum dan memadatkan semua instrumen yang ada dalam sebuah petikan saja. Bisa. Angkat pesona dari sebuah keindahan. Terperangah menuju melodi dan harmoni. Indahnya puisiku. Dalamnya arti sebuah syair ini, berharap aliran darah tanpa halangan menuju ke pangkal leher. Ketenangan, dengan segala aksi yang lebih baik.
mas galau :p
BalasHapusGag lha yau!
BalasHapusbikin lagi dung posting yg "anehaneh" ahahahah
BalasHapusBrati sebelum2nya ini aneh T.T Nasib oh nasib
BalasHapusaq suka yg aneh soalnya.. kayag kmu beh ahaha :D
BalasHapusManteb wes, seneng aku lek gini... uuuahahaha *lompat2!!
BalasHapuswaduuhh jangan lompat"...
BalasHapusnakutin.. +.+"
guling" aja yyaa beh... aman biar gag jatoh :D